Minggu, 12 Mei 2013, situs media online, arrahmah.com, menurunkan berita dengan judul yang sangat tendensius dan terkesan provokatif, yakni “Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj: Cikal Bakal Teroris itu Rajin shalat Malam, Puasa, dan Hafal Alquran”.
Mengapa tendensius dan terkesan provokatif? Karena, jika kita telusuri konteks pembicaraan KH Said Aqil Siradj, maka niscaya ditemukan bahwa bukan teroris itu adalah muslim yang rajin shalat malam, puasa dan hafal Alquran, melainkan ciri-ciri dari kelompok Khawarij, yang menurut KH Aqil, sebagai cikal bakal dari radikalisme dalam Islam.
Namun, situs arrahma.com justru mengabaikan konteks pembicaraan KH Said Aqil perihal soal Khawarij. Sebaliknya, situs tersebut justru memelintir ucapan Ketua Umum PBNU itu dengan judul yang sangat provokatif seperti yang telah ditulis di atas, yang pada akhirnya publik akan tergiring opininya bahwa KH Said Aqil menggolongkan muslim yang patuh terhadap ritual shaleh sebagai teroris.
Sejatinya, jika terkait dengan Khawarij, maka tak ada yang salah dengan ucapan Kang Said, melainkan benar. Sebab, dari beberapa hadis Nabi Muhammad Saww justru makin memperkuat pernyataan Kang Said terhadap kelompok ini.
Taruhlah semisal hadis riwayat Abu Dawud, di mana Nabi bersabda: “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.”
Atau dalam Musnad Ahmad, misalnya, terselip riwayat tentang seorang laki-laki yang terkenal khusyu dalam ibadah, tetapi Nabi menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membunuhnya bila menemukannya. Nabi menubuwatkan bahwa orang itu akan menjadi sumber perpecahan di kalangan muslim. Para ulama ahli hadis menyebutkan bahwa orang itu -kelak- akan menjadi penghulu kaum Khawarij.
Ada dua ciri utama dari kelompok yang sering disebut-sebut sebagai cikal bakal dari radikalisme dalam Islam, yaitu:
1. Pemahaman yang formalistis.
Mereka terkenal sangat patuh kepada teks-teks formal Alquran dan hadis. Mereka hampir tidak dapat menangkap yang tersirat. Mereka mengambil hanya apa yang tersurat.
Orang Khawarij mewajibkan wanita yang haid untuk berpuasa, karena menurut Alquran mereka tidak termasuk yang dibebaskan dari kewajiban berpuasa. Wanita haid tidak termasuk yang sakit, ataupun berpergian, atau yang tidak mampu berpuasa.
2. Patuh ritual, tetapi kurang ukhuwwah.
Orang Khawarij sangat patuh menjalankan ibadah ritual, tetapi sangat kaku dalam hubungan sosial, terutama sesama kaum muslim.
Mereka rajib bangun tengah malam. Bila ayat-ayat mengenai neraka sampai di telinga mereka, berguncang tubuh mereka; seakan-akan mereka berada di pinggir api neraka. Dahi mereka menghitam karena bekas sujud. Tidak jarang mereka terisak-isak dalam shalat mereka.
Namun kepatuhan mereka terhadap ritual menjadi tak berbekas ketika bertemu dengan saudaranya yang muslim namun berbeda pendapat. Konon, seorang tabi’in bernama Abdullah bin Habab harus menerima kenyataan dengan mati secara mengenaskan hanya karena berbeda pendapat dengan kelompok ini.
Walhasil jika pernyataan KH Said Aqil tidak dipelintir sedemikian rupa oleh situs arrahmah dan sejenisnya, niscaya kita akan menemukan gambaran utuh tentang konteks pembicaraannya.
Sekali lagi, KH Said Aqil menerangkan ciri-ciri dari kelompok Khawarij, yang dinyatakan oleh Beliau sebagai cikal-bakal dari paham radikal dalam Islam, yang belakangan dianut oleh para pengusung teologi horor di Indonesia. Dan bukan menyatakan bahwa ciri-ciri teroris itu haruslah muslim yang rajin shalat malam, puasa dan hafal Alquran.
Adakah yang salah dengan pernyataan Kang Said, bila kita secara utuh menyimak konteks pembicaraan Ketum PBNU tersebut? Saya serahkan kepada pembaca sekalian.
Semoga artikel ini menjadi penyeimbang di tengah-tengah rumor yang tak pasti terkait ucapan KH Said Aqil Siradj. Dan ingatlah pesan Alquran mengenai pentingnya ber-tabayyun jika ada kabar yang menghampiri kita.

Tidak ada komentar: