» » Mariana Saragih : Islam Memberikan Ketenangan Bathin


suara-muslim.com - Mariana Saragih, atau lengkapnya Mariana Saroha Saragih, lahir pada 2 Januari 1985 di Tanjung Balai Karimun, Riau. Meski ber­asal dari keluarga Kristen Protestan yang taat, sedari kecil gadis keturunan Batak campuran Cina ini telah mempela­jari Islam. Ia merasa, takdir telah mem­bimbingnya mengenal dan dekat dengan Islam. Maka tak mengherankan jika kemudian ia memutuskan pindah ke­yakinan ke dalam agama Islam. Ada se­macam perasaan nyaman yang selalu mengisi relung qalbunya ketika melihat orang berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu. Wajah mereka tampak begitu bersih, lang­kah mereka mantap tanpa keragu­an. Sepertinya mereka menuju suatu tem­pat yang paling indah.
Ami, demikian panggilan akrabnya sekarang, kini berdomisili di Pekanbaru. Keluarganya memang berasal dari Medan, tapi ia sempat menghabiskan masa kecilnya di Banda Aceh, mengikuti ayahnya yang bertugas di sana. Di Kota Serambi Makkah inilah ia mengenal dan dekat dengan Islam sejak dini.
“Ami dari kecil sudah belajar agama Islam melalui teman-teman, mereka sa­ngat menyenangkan. Orangtua dulu ting­gal di Aceh, jadi sedikit-banyaknya Ami sudah tahu tentang Islam,” tuturnya mengawali kisahnya. Maka jadilah anak perempuan bungsu dari delapan bersau­dara ini dekat dengan Islam.
Maklum, Aceh, yang masyarakatnya homogen penganut Islam, menerapkan syari’at Islam yang ketat, dan juga mem­berikan pelajaran Islam yang mendalam di sekolah-sekolah. Apalagi Ami juga ber­sekolah di sekolah dasar negeri di Aceh, bukan di sekolah yang diperun­tuk­kan bagi siswa beragama Kristen.
Ditambah pula, usai menamatkan SD dan SMP, SDN 24 Banda Aceh dan SMPN 6 Pekanbaru, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah Islam, yakni SMK Nurul Falah Pekanbaru. Dari sekolah dan pertemanan dengan siswa Islam inilah ia merasakan jiwanya kian dekat dengan Islam.
Ketika ditanya apa yang menyebab­kannya memilih sekolah Islam dan apa­kah tidak ditanya macam-macam, Ami malah tersentak dengan pertanyaan itu. ”Karena ketertarikan kepada Islam, saya masuk ke sekolah Islam. Malah banyak dorongan yang saya dapatkan, tidak ada yang memaksa, semuanya menerima layaknya sahabat,” katanya.
“Islam memberikan ketenangan bathin, Islam membuat hidup saya jauh lebih tenteram dibandingkan ketika saya memeluk agama sebelumnya. Ibadah yang dilakukan di dalam Islam membuat pemeluknya begitu dekat dengan Pen­cipta­nya. Apalagi setelah membaca ba­caan shalat, ketika membaca artinya terasa betapa amat sayangnya Tuhan kepada setiap hamba-Nya dan kita pun merasa berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Itu sangat menenteramkan saya,” demikian jawaban gadis ini man­tap ketika ditanya kenapa ia beralih agama.
”Ketika masih memeluk agama yang lama, sering timbul pertanyaan dalam bathin saya tentang ajaran ketuhanan­nya, yang membuat hati saya selalu gelisah. Terutama doktrin tentang Tuhan turun ke bumi. Sedang dalam Islam, Tuhan tidak perlu turun ke bumi. Wahyu-wahyu Tuhan disampaikan kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril. Kon­sep ketuhanan inilah terutama yang mem­buat saya meyakini ajaran Islam.”
Tepatnya Ami mengucapkan kali­mah syahadat pada tahun 2006, ketika usianya beranjak 21 tahun, persis men­jelang bulan Ramadhan waktu itu.
Ia sudah mempunyai persiapan yang mantap ketika akan memeluk agama barunya. Sehingga ketika kalimah sya­hadat dilafalkannya, tak ada keraguan mengenai apa yang harus dilakukannya, sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
Sudah lama ia membeli peralatan shalat, sesuatu yang membuatnya ber­degup antara harap dan rindu tatkala telah mencoba mukena yang dibelinya. ”Rasanya saya seperti dilahirkan kem­bali, Sang Pencipta terasa begitu dekat dengan saya, menyambut saya dengan suka cita karena kembalinya saya ke­pada fithrah, memeluk agama yang suci dan sempurna,” ujarnya meyakinkan.
Ami pun melaksanakan puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh, ikut shalat Tarawih. Itu pengalaman yang menakjubkan, menurutnya, apalagi ketika akan berbuka. ”Di sana kita me­ngerti arti pemberian Allah berupa rizqi. Kita akan mensyukuri pemberian Allah, sekecil apa pun, karena dilatih kosong ketika siang. Sungguh luar biasa.”
Reaksi Keras dari Keluarga
Keislaman Ami mendapat reaksi ke­ras dari keluarga besarnya, terutama dari abang-abangnya. Ia dimarahi habis-habisan.
Namun wanita yang sudah sangat yakin bahwa Islam-lah agama yang benar ini tak goyah dengan keimanan­nya. Tak sedikit pun ada rasa gentar mempertahankan keislamannya. Bah­kan kalaupun harus hidup sendiri di luar keluarga besarnya, akan ia jalani dengan ikhlas.
Mungkin karena itulah, akhirnya, se­iring perjalanan waktu, keluarganya bisa menerima kenyataan bahwa dalam keluarga mereka ada perbedaan agama. Tapi yang jelas, semua itu tentu merupa­kan pertolongan Allah SWT, yang harus disyukurinya.
“Ya, sekarang abang-abang saya atau keluarga besar saya sudah bisa menerima saya,” ucapnya penuh syukur. Bahkan dalam keluarga Ami kemudian tak hanya dirinya yang menganut Islam, dua kakaknya yang lain juga menerima hidayah Allah.
Kedua kakaknya itu kini tinggal di Aceh, sedangkan Ami tetap di Pekan­baru. Ya, seiring perjalanan waktu, me­reka tak lagi berkumpul. Saudara-sau­daranya, termasuk Ami, memilih meran­tau. Apalagi setelah kedua orangtua Ami meninggal dunia.
Kini gadis muda yang penuh sema­ngat ini kos di Pekanbaru, merintis jalan hidupnya menuju masa depan yang ia yakini penuh berkah dan pertolongan Allah SWT. Hanya Allah jua sebaik-baik penolong.
Roidah, Padang (Majalah Alkisah)

About Unknown

Hi there! I am Hung Duy and I am a true enthusiast in the areas of SEO and web design. In my personal life I spend time on photography, mountain climbing, snorkeling and dirt bike riding.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply