» » Seperempat Penduduk di Brussels Belgia Muslim


”Ketika aku menyingkap apa itu Islam, terasalah bagiku bahwa kini aku telah sampai ke rumahku dan keluarga besarku.”
Brussels, yang merupakan ibu kota politik Uni Eropa, kini menjadi tempat tinggal bagi setengah dari seluruh muslim di Belgia. Setengah warga Belgia sendiri tinggal di kota ini. Belgia adalah salah satu dari kota-kota di Eropa yang penduduknya banyak menganut Islam, seperti halnya Birmingham, Inggris.
Sebuah studi yang dipublikasikan belum lama ini, yang dipimpin oleh Guru Besar Sosiologi Universitas Katholik Louvain di Belgia, Felice Dasetto, me­nunjukkan, dari satu juta penduduk Brus­sels, sebanyak 250 ribu di antaranya me­miliki akar muslim.
Dari hari ke hari, makin banyak saja umat Islam yang tinggal di ibu kota Belgia, Brussels. Subhanallah, kini dua puluh lima persen warga kota ini adalah penganut agama Islam.
Dominasi Imigran
Keberadaan Islam di Brussels dari hari ke hari semakin terlihat dengan ke­hadiran masjid dan menara-menaranya di kota itu. Pada saat yang sama, makin banyak wanita berjilbab berseliweran di jalan-jalan kota. Saat ini juga makin ba­nyak organisasi muslim yang didirikan.
Menurut studi tersebut, keyakinan ter­­hadap Islam merupakan kekuatan yang besar untuk memobilisasi pen­du­duk. Bahkan, kekuatan itu melebihi ke­kuatan gereja Katholik ataupun partai-partai politik di Brussels.
Sementara itu, menurut koran ming­guan Belgia, Le Vif L’Express, naiknya populasi muslim di Brussels menjadikan kota ini sebagai salah satu kota paling multikultural di Eropa. Selain di Brussels, umat Islam juga telah menjadi komunitas yang menonjol di sejumlah kota di Eropa. Media tersebut juga memprediksi kecen­derungan populasi muslim di sana yang akan semakin menguat hingga 20 tahun mendatang.
Prediksi sejumlah ahli menyebutkan, Brussels memang sangat mungkin di­penuhi penduduk muslim pada 20 tahun mendatang. Pada awal 2010, penduduk Brussels berjumlah 1,1 juta. Menurut perkiraan Biro Perencanaan Brussels, penduduk kota ini akan bertambah 250 ribu orang lagi pada 20 tahun menda­tang. Sedangkan menurut Lembaga Sta­tistik dan Analisis Brussels, pada 2018 penduduk kota ini mungkin sebanyak 1,2 juta jiwa.
Lantas, berapa jumlah umat muslim dalam konfigurasi baru tersebut? Seba­gai gambaran, sekarang keluarga kulit pu­tih, kelas menengah, dengan anak-anaknya, memilih meninggalkan 19 dis­trik di wilayah Brussels. Mereka lebih ter­tarik pindah ke provinsi yang lebih nya­man dan memiliki biaya hidup lebih mu­rah, seperti Walloon Brabant, Flemish Brabant, dan Hainaut.
Sementara itu, tingkat kelahiran da­lam keluarga imigran jauh lebih tinggi dari­pada tingkat kelahiran di kalangan keluarga asli Eropa. Dari keluarga-ke­luarga imigran inilah kebanyakan umat Islam di sana berasal.
“Kontrol” Pemerintah
Gelombang utama imigran dari ne­gara-negara muslim mulai terjadi pada awal tahun 1960, ketika perjanjian mig­rasi ditandatangani dengan Maroko dan Turki, dan kemudian pada akhir tahun 1960-an dengan Aljazair dan Tunisia. Berbeda dengan Belanda, Belgia nyaris tidak memiliki hubungan dengan dunia muslim selama periode kolonial.
Tahun 1974, Belgia dikenai persya­ratan yang ketat terhadap masuknya tenaga kerja asing. Namun demikian, Belgia tetap menjadi salah satu negara paling liberal di Eropa dalam hal ke­bijak­an pada kepercayaan dalam sebuah keluarga.
Sejak tahun 1975, materi pengajaran agama Islam diperkenalkan di sekolah umum atas dasar kesamaan dengan agama-agama lainnya. Saat itu telah terdapat sekitar 700 guru muslim yang mengajarkan Islam di berbagai sekolah dasar maupun menengah.
Seperti di negara-negara Uni Eropa lainnya, penduduk muslim di Belgia se­benarnya masih relatif sangat muda. Hampir 35 persennya berasal dari Turki dan Maroko, kelompok muslim terbesar di negara tersebut, di bawah 18 tahun, dibandingkan dengan 18 persen dari Belgia asli. Akibatnya, seperempat dari warga Brussels di bawah usia 20 ber­agama Islam. Disebutkan, pada tahun 2002, nama yang paling populer yang diberikan kepada bayi di wilayah Brussel adalah Muhammad dan Sarah.
Data statistik dari tahun 2003 menun­jukkan, konsentrasi muslim di sana ter­diri dari warga asal Maroko (125.000 jiwa) dan Turki (70.000 jiwa). Berikutnya, Aljazair (8.500 jiwa), Tunisia (4.000 jiwa), dan selanjutnya diikuti warga muslim Bosnia-Herzegovina, Pakistan, Le­banon, Iran, Suriah, dan Mesir. Disebut­kan, 113.842 orang dari warga muslim di sana telah memperoleh kewarga­ne­garaan Belgia antara tahun 1985 dan 1997. Sehingga, antara 2003 dan 2007, perkiraan populasi ini meningkat hampir dua kali lipat.
Dewan eksekutif muslim Belgia ada­lah kekuatan pendorong di belakang ber­dirinya masjid-masjid di Brussels. Dewan juga telah menetapkan tokoh-tokoh agama untuk memimpin setiap sekolah bagi anak-anak warga muslim.
Namun demikian, para ahli di sejum­lah organisasi agama dan negara meli­hat kurangnya transparansi dan keadilan dalam hal subsidi negara. Bahkan, sam­pai November 2006, pemerintah juga mempertimbangkan akan membuat un­dang-undang untuk mengontrol pembia­yaan luar negeri masjid di Belgia untuk mengurangi “pengaruh ideologis luar” pada lembaga-lembaga muslim Belgia.
Kontroversi seputar jilbab, misalnya, di sekolah-sekolah terutama diperdebat­kan di Belgia dibandingkan dengan ke­banyakan negara-negara Uni Eropa lain­nya. Tidak ada larangan nasional terha­dap jilbab, walaupun hal ini diusulkan oleh dua senator yang tidak mampu mengumpulkan cukup dukungan.
Januari 2001, pengadilan tinggi Belgia telah memutuskan bahwa se­orang wanita muslim yang mengenakan jilbab tidak dapat dicegah untuk menda­patkan kartu identitas. Namun, Desem­ber 2004, pemerintah Belgia mengu­mumkan sedang mempertimbangkan larangan pada simbol agama mencolok, terutama bagi pegawai negeri. Karena­nya, mengenakan simbol-simbol agama saat ini dilarang bagi para pejabat pe­layanan publik, seperti hakim, polisi, dan kantor-kantor pemerintahan.
Di Belgia, setiap kota dan sekolah memiliki hak untuk memutuskan apakah ter­larang atau tidak untuk jilbab dan sim­bol-simbol agama tertentu. Sejauh ini, se­bagian besar sekolah di Belgia me­milih untuk melarang jilbab.
Kondisi ini tentu menjadi ironis, ter­utama bila mengingat bahwa Raja Albert II, penguasa Belgia, telah berbicara be­berapa kali tentang pentingnya toleransi dan kesetaraan. Tercatat, pada 21 Juli 2003, Raja Albert untuk pertama kalinya memperkenalkan istilah “budaya multi-Belgia”, saat berbicara tentang kaum imigran Belgia, sebagai wacana kehi­dup­an sosial dan beragama yang kon­dusif di sana.
Perjalanan Mencari Kebenaran
Harian Warsawa berbahasa Belgia menegaskan, lebih dari 40.000 warga ne­gara Belgia telah memeluk Islam se­panjang beberapa tahun lalu. Ini me­rupa­kan rekor tertinggi di benua Eropa bila dibandingkan dengan jumlah pendu­duk Belgia yang hanya mencapai sekitar 10 juta jiwa.
Tercatatnya rekor tertinggi dalam ge­lombang mereka yang masuk Islam ini men­dorong kelompok ekstrem kanan Bel­gia untuk menabuh genderang “ba­haya”. Mereka memaklumatkan peri­ngat­an yang menegaskan bahaya kawin campur.
Pada kenyataannya, tidak demikian yang dirasakan oleh para muallaf di sana. Geroum Franso, berusia 27 tahun, salah seorang pemeluk Islam, men­ceri­takan, dirinya mengambil langkah ter­sebut bukan karena ingin menikahi se­orang wanita muslimah. Malah perka­winannya berlangsung setelah tujuh ta­hun ia masuk Islam.
Geroum juga mengatakan, di antara rahasia kenapa ia begitu yakin dengan Islam adalah karena Islam itu bukan perantara. Inilah yang selama ini ia cari. Ia berkata, ”Ketika mengucapkan dua kalimah syahadat, memulai shalat dan menikah dengan seorang muslimah, aku merasa bahwa aku selama-lamanya ada­lah seorang muslim.” Demikian se­perti yang dirilis surat kabar El Liwa, yang terbit di Yordania.
Ia menambahkan, dirinya mengeluh­kan adanya berbagai propaganda me­dia yang menyudutkan mereka, me­ma­nipulasi banyak fakta dan mengandung banyak kekeliruan, yang seakan hanya memfokuskan bahwa sebab utama ma­suk Islam tersebut adalah gara-gara per­kawinan dengan wanita muslimah.
Salah seorang muallaf lainnya, Franso Clarangle, berusia 47 tahun, me­nyebutkan, perjalanannya menuju Islam adalah perjalanan mencari kebenaran. Ia menyiratkan, sebelumnya ia telah melewati banyak fase dan perubahan dalam kehidupannya dari seorang remaja puber Katholik yang aktif di partai komunis lalu berubah menjadi seorang atheis.
Ia juga menyiratkan, tidak ada yang dapat membuat keinginan spiritualnya terpuaskan selain dalam Islam. Ia mengatakan, ”Ketika aku menyingkap apa itu Islam, terasalah bagiku bahwa kini aku telah sampai ke rumahku dan keluarga besarku.”
Dengan berbagai perkembangan yang ada, pihak pemerintah Belgia sendiri amat serius dalam menangani para pemeluk Islam. Ini terbukti dengan penunjukan Yasin Pyanus, seorang dok­ter yang beberapa tahun lalu memeluk Islam dan beristrikan seorang wanita muslimah sebagai orang pertama yang mengepalai Dewan Penetapan Waktu bagi umat Islam Belgia, sekali­gus ketua Dewan Tinggi Majelis Tanfidzi bagi umat Islam Belgia.
Akan Semakin Berkembang
Menjelajahi jalan-jalan di kota Brus­sels, dengan mudah akan ditemui para wanita berjilbab, baik tua maupun re­maja. Mereka berbusana muslimah saat berada di jalan, kendaraan, pasar, dan pusat-pusat keramaian. Hebatnya lagi, terkadang mereka juga membeli sebuah gedung atau perumahan untuk dijadikan tempat-tempat peribadahan.
Yang unik, misalnya, imigran asal Turki, kalau di negaranya yang sekuler kerap menghadapi kendala saat menge­na­kan jilbab, tidak demikian ketiga ber­ada di negara Eropa Barat itu. Selain warga Turki, muslimah asal Maroko, Afrika Utara, yang tinggal di Eropa, juga tak lepas dari jilbab. Imigran asal kedua negara muslim itu adalah yang dominan di Belanda, Jerman, dan Belgia.
Islam kian berkembang di Eropa. Perlahan namun pasti masyarakat Eropa semakin tertarik dan melirik pada ke­be­naran yang dibawa agama Islam. Na­mun, sebagaimana yang banyak terjadi di berbagai tempat, kondisi seperti ini kerap menuai tentangan keras, terutama dari kelompok Yahudi.
Fenomena meningkatnya populasi muslim ini terjadi hampir merata di se­luruh Eropa, tidak hanya terjadi Brussels. Dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 2009, Refleksi atas Revolusi di Eropa: Imigrasi, Islam, dan Barat, kar­ya Christopher Caldwell, seorang jur­nalis untuk Financial Times, disebutkan daftar kota Eropa dengan minoritas mus­lim yang besar: Rotterdam dan Marseille (lebih dari 25%), Malmö (20%), Brussels dan Birmingham (15%), London, Paris, dan Kopenhagen (10%). Menurut Cald­well, komunitas ini, karena mereka pada umumnya muda, berpendidikan rendah, dan sering bergantung pada kesejah­teraan negara dari sub-kualifikasi dan diskriminasi, menjadi “sumber konflik dan ancaman” bagi komunitas Eropa.
Secara resmi disebutkan, keberada­an 15% muslim di Brussels mewakili 17% (160.000 orang) di awal 2000-an, atas dasar perhitungan yang dibuat oleh ekstrapolasi negara asal yang mana Islam adalah dominan. Secara nasional, mereka diperkirakan mencapai 4%, atau 350.000-370.000 orang.
Mayoritas penduduk muslim di sana berasal dari Turki dan Maroko. Tahun lalu, Duta Besar Maroko, Samir Saddah­re, mengatakan kepada Le VIF L’Express, “Berdasarkan daftar dari konsulat kami di Brussels, Antwerpen, dan Liege, ke­turunan Maroko dan Belgia-Maroko yang berbasis di Belgia sejumlah 350.000. Tapi, berdasarkan kriteria statistik lain­nya, sekitar 600.000 orang.”
Pada tahun 2008, Olivier Servais, kepala Laboratorium untuk Calon Antro­pologi, menyatakan, populasi muslim terdiri 33,5% dari penduduk Brussels, dengan komunitas asal Perancis, atau Maroko, sekitar 12,1%. Sampai-sampai, di­sebutkan, lantaran itu seorang penasi­hat ilmu pengetahuan untuk tiga media, mingguan KatholikDimanche, La Libre Belgique, dan RTBF, meminta untuk mengadakan studi tentang barometer pengaruh agama, setelah memprediksi keberadaan mayoritas muslim di Brus­sels pada 15-20 tahun mendatang.
(Majalah Alkisah)

About Unknown

Hi there! I am Hung Duy and I am a true enthusiast in the areas of SEO and web design. In my personal life I spend time on photography, mountain climbing, snorkeling and dirt bike riding.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply